Mengenal Tuhan

6 Februari 2009 - Leave a Response

mengenal Tuhan

Frasa “because of You” yang berarti “oleh karena-Mu” benar-benar harus menjadi filosofi atau prinsip hidup Kekristenan kita. Mengapa demikian? Sebelumnya, saya mau menuliskan beberapa potong kalimat yang dilontarkan oleh Dr. Erastus Sabdono, M.Th. (rektor salah satu sekolah Alkitab di Jakarta) dalam khotbahnya, yang berbunyi demikian: “Ada satu filosofi hidup yang harus tertanam di dalam jiwa kita. Jika kita tidak memiliki prinsip hidup ini, jika kita tidak berdiri di atas filosofi ini, hidup kita pasti tidak benar. Prinsip hidup itu adalah bahwa manusia dilahirkan di dunia ini dan hidup untuk sementara waktu, hanya untuk satu tujuan. Tujuan itu adalah mengenal Allah.” Jadi, sesungguhnya kita harus menyadari bahwa tujuan utama kita di dalam hidup ini adalah mengenal-Nya. Lho, mengapa demikian? Mungkin, beberapa dari teman-teman akan mengatakan, “Aku sudah mengenal Tuhan dari dulu, lalu apa lagi? Apakah hanya begitu saja hidup ini?”.

Percayalah, mengenal Tuhan itu sangat rumit! Apabila kita ingin menjalin relasi dengan teman lawan jenis kita, yang mungkin akan menjadi pendamping hidup kita sampai mati, kita pasti harus memulai tahap awalnya, bukan? Tahap awal tersebut adalah mengenal pribadinya, bukan? Kita harus mengetahui tanggal lahirnya, di manakah tempat tinggalnya, apakah makanan kesukaannya, apakah hobinya, apakah yang membuatnya bahagia dan sedih, apakah yang membuatnya marah, apakah yang membuatnya jatuh cinta kepada kita, hal-hal apa yang paling ia senangi, hal unik apa yang ada padanya, dan masih banyak lagi. Kira-kira seperti itulah tahap mengenal pribadi kekasih kita. Hal ini tidak jauh berbeda ketika kita mau mengenal Tuhan. Mengenal Tuhan benar-benar sangat rumit, bahkan lebih rumit daripada mengenal pribadi kekasih/pacar/sahabat kita. Lalu bagaimana caranya? Mau tidak mau, kita harus bergaul karib dengan-Nya.

Bergaul karib dengan-Nya membutuhkan dua hal, yang sangat mempengaruhi kualitas pergaulan kita. Pertama, kita membutuhkan Alkitab beserta pengajaran Firman Tuhan yang benar-benar original. Pak Erwin Sudharma (pembicara pada Malam Sukacita Paskah 2008 di Institut Pertanian Bogor) mengatakan bahwa kita perlu menjadikan Alkitab sebagai bahan bacaan utama di dalam aktivitas sehari-hari agar kita dapat menyadari cinta Tuhan yang begitu nyata dalam hidup kita. Kita benar-benar harus memprioritaskan Alkitab di atas diktat-diktat kuliah, buku-buku novel/komik, buku-buku pengembangan diri, dan buku-buku lainnya yang mungkin penting, tetapi nilai gunanya tidak mampu melebihi nilai guna Alkitab. Apabila kita gagal membaca diktat kuliah, kita hanya gagal mendapatkan materi dan konsekuensi terberatnya adalah mendapatkan nilai ujian yang jelek. Akan tetapi apabila kita gagal membaca Alkitab, kita tidak hanya gagal mendapatkan materi pengenalan akan Tuhan, tetapi juga gagal dikenal oleh-Nya (Mat 7:23). Ini adalah tragedi yang sungguh tragis. Kedua, kita membutuhkan beberapa menit, bahkan beberapa jam untuk bersekutu bersama Tuhan di dalam hadirat-Nya. Inilah yang disebut bersaat teduh dalam doa, aktivitas yang sakral dan kudus di mana kita menyediakan waktu dan tempat secara khusus untuk memasuki dan menikmati hadirat Tuhan dan beristirahat di dalam pelukan-Nya, memuji-Nya, menyembah-Nya, bersyukur kepada-Nya, dan berkeluh kesah kepada-Nya.

Mengenal Tuhan adalah dasar dan tahap awal untuk menuju ke langkah selanjutnya yaitu melakukan kehendak-Nya dan menyelesaikan pekerjaan-Nya (Yoh 4:34). Apabila tahap awal saja kita belum mampu melakukannya, bagaimana mungkin kita dapat menuju tahap selanjutnya. Oleh karena itu, kita harus berjuang untuk mengenal-Nya karena hal ini tidaklah otomatis. Maksud saya adalah seperti ini, tidak mungkin kita akan mengenal Tuhan secara otomatis, setelah kita dibaptis di gereja, atau pulang dari gereja yang berapi-api, atau pulang dari retreat atau KKR besar. Mengenal Tuhan memerlukan proses dan kemauan, kerinduan, serta ketulusan untuk benar-benar mau mengenal karakter dan pribadi-Nya secara benar dan mendalam.

Apabila kita sudah mengenal Tuhan, kita akan memiliki relasi yang harmonis dengan-Nya dan apabila hal itu terjadi, tercetuslah suatu konsep: kita memiliki Tuhan dan kita dimiliki Tuhan. Orang yang sudah sungguh-sungguh mengenal Tuhan secara benar ia akan menyadari betapa Tuhan sangat mengasihinya. Ia akan hormat dan tunduk karena ia mengenal siapa Tuhan yang dihadapinya. Bahkan, apa yang dikatakan Pak Heri Susanto (pembicara pada Persekutuan Siswa Kristen Bogor April 2008) bahwa orang yang sudah hidup di bawah pimpinan Roh Kudus, nalurinya tidaklah lagi naluri untuk melakukan dosa, tetapi naluri untuk melakukan hal-hal yang berkenan bagi-Nya. Hal inilah yang membuatnya dapat berkata, “Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi.” (Mzm 73:25).

Mengenal Tuhan juga membutuhkan pertaruhan yang mahal. Misalnya, seorang mahasiswa kehutanan yang mau mengenal dan mendalami ilmu kehutanan secara utuh, ia harus rela membayar mahal atas biaya kuliah, biaya pembelian buku, biaya pembelian perlengkapan hidup di hutan, jangka waktu kuliah kurang lebih empat tahun, dan juga jerih lelah dalam belajar dan melakukan penelitian. Bagaimana mungkin ia mampu mengenali ilmunya apabila ia tidak mempertaruhkan harga yang harus dibayar? Saya akan berikan contoh lagi dalam dunia gelap, misalnya perjudian. Di dalam perjudian kita dituntut untuk menang sebanyak-banyaknya dan kita perlu mempertaruhkan uang kita agar dapat melakukan perjudian dan menang sebanyak-banyaknya. Bagaimana mungkin seorang pejudi mampu menang sebanyak-banyaknya apabila ia hanya berani bertaruh sedikit? Lebih-lebih, ia malah tidak berani mempertaruhkan apapun, bagaimana mungkin ia mengalami kemenangan padahal memulai perjudian saja belum dilakukannya? Hal yang sungguh mustahil. Demikian juga dalam mengenal Tuhan, diperlukan pertaruhan. Barangsiapa mau menang, ia harus mempertaruhkan sesuatu. Tuhan tidak hanya meminta kita mempertaruhkan uang kita, pelayanan kita, atau kelebihan yang kita miliki. Ia meminta lebih dari itu, ia meminta kita mempertaruhkan seluruh hidup kita. Mengapa demikian? Hal itu dikarenakan kita telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar (1 Kor 6:20).

Jadi, frasa “because of You” memang benar-benar harus menjadi filosofi atau prinsip hidup Kekristenan kita. Katakan: I live because of You, I study because of You, I serve because of You, I know You because of You, I love You because of You, I do everything in my life because of You. Everything is only because of You. Hidup Kekristenan sangat berbeda dengan hidup yang ditawarkan oleh filosofi-filosofi dunia. Hidup Kekristenan mungkin dianggap radikal dan tidak waras bagi dunia. Ketika orang-orang dunia sibuk mencari uang dan kesuksesan karir untuk kepuasan batin mereka, kita malah sibuk mencari dan mengenal Tuhan hanya untuk memuaskan hati-Nya saja. Tidak hanya itu, justru kita pun harus benar-benar mematikan ego untuk memuaskan diri kita. Prinsip hidup Kekristenan yang saya alami adalah hidup ini bukan tentang kita, melainkan tentang Tuhan. Pada Roma 11:36, tertulis: Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! Hal ini menunjukkan bahwa alam semesta dan seluruh ciptaan, mulai dari yang gaib sampai yang nyata, mulai dari yang terkecil sampai yang terbesar, mulai dari yang paling sederhana sampai yang paling rumit, hanya berfokus dan tertuju pada satu tema, satu judul, dan satu klausa, yaitu kemuliaan Tuhan.

Kita tidak berhak menuntut apapun atas hidup kita karena hidup ini bukan tentang kita. Sekalipun kita mengalami penderitaan yang begitu berat, kita harus tetap menyadari hidup ini tentang Tuhan. Toh, sekalipun penderitaan yang kita alami begitu berat, tidak lama lagi semuanya akan berakhir, tidak lama lagi kita akan mati, tidak lama lagi kita akan memasuki sebuah kebahagiaan yang tidak ada hentinya, yaitu persekutuan dan pemerintahan yang kekal bersama pribadi yang Maha Terhormat dan Maha Termulia, yaitu Komandan Agung kita, Tuhan Yesus Kristus. Marilah mengenal Tuhan!!!

Kematian untuk Kehidupan

6 Februari 2009 - Leave a Response

perang

Aku adalah seorang prajurit. Aku adalah seorang yang selalu bergelut dengan kehidupan dan kematian. Aku adalah seorang yang selalu berurusan dengan darah dan rasa sakit. Tidak ada lagi ambisi untuk meraih keindahan, kenikmatan, dan kebahagiaan di dalam benakku. Aku adalah seorang yang telah dilatih keras untuk menghadapi medan pertempuran. Aku adalah seorang yang telah dilatih untuk tetap kuat dalam rasa sakit. Terkadang, aku mengalami ketakutan yang luar biasa ketika melihat kekuatan musuh yang begitu besar di hadapanku. Namun, setelah melihat keberanian yang kuat di dalam mata komandanku, begitu juga melalui perkataannya yang memotivasi diriku, aku menyadari bahwa aku harus segera membunuh ketakutanku tersebut. Aku pun menyadari bahwa ketakutanku itu adalah sisa-sisa dari egoku yang masih muncul padahal aku sendiri terus-menerus dilatih untuk menghancurkan kepentingan diriku sendiri. Seorang prajurit memang dilatih untuk menghancurkan kepentingan diri sendiri karena ia wajib memiliki rasa kebangsaan yang tinggi, yang menjadi dasar dan semangat bagi dirinya untuk bertempur. Aku tahu untuk siapa aku bertempur, yaitu untuk bangsaku. Aku tahu diriku adalah salah satu nyawa yang dipertaruhkan di antara ribuan nyawa prajurit-prajurit lainnya dalam suatu pertempuran. Aku tahu sewaktu-waktu aku pasti akan mati. Aku tahu aku akan mati dengan sangat mudah dan tidak diduga-duga. Aku tahu kematian itu akan segera menjemputku. Terkadang, aku takut untuk mati, tetapi aku telah meyakinkan diriku bahwa aku ada untuk mati. Oleh karena itu, target terakhir yang ada dalam diriku adalah kematian. Kematian pada diriku bukanlah berarti kekalahan pada pasukan kami karena aku hanyalah satu dari antara ribuan nyawa lainnya yang dipertaruhkan. Aku pun berjuang keras untuk bertahan hidup agar aku dapat terus bertempur dengan baik. Oleh karena itu, aku menjaga diriku agar tidak lengah. Aku bertempur dengan seluruh kekuatan dan sumberdaya yang kumiliki karena selain senjata perang dan ketahanan tubuh, aku memiliki sumberdaya yang jauh lebih besar, yaitu semangat. Semangat adalah kekuatan terbesar di dalam diriku. Apa semangat itu? Aku selalu yakin dan terus dilatih untuk yakin bahwa aku dan seluruh pasukan pasti selalu menang. Sekalipun kami tampak kalah, kami percaya bahwa harapan dan keajaiban itu selalu ada. Apalagi kami dipimpin oleh seorang komandan perang yang sangat berani, yang selalu memotivasi kami semua, yang selalu berperang di garis depan, dan yang selalu mengalami luka dan ancaman kematian yang lebih hebat daripada kami semua. Ia selalu menjadi teladan bagi kami semua dan apakah yang selalu ia katakan kepada kami? Ia selalu berteriak dengan lantang kepada kami sambil mengangkat tangannya yang terkepal kuat, “Apapun yang terjadi, kemenangan pasti di tangan kita. Kemenangan!!! Kemenangan!!! Kemenangan!!!” Kemenangan adalah semangat kami. (sebuah prosa fiksi)

Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus. Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya. 2 Timotius 2:3-4 Ilustrasi yang paling tepat dan paling sesuai untuk hidup yang kita jalani adalah sama seperti cerita di atas. Hidup adalah arena pertempuran yang sangat menyakitkan. Kehidupan seorang Kristen sesungguhnya adalah kehidupan militer, yang sangat menyakitkan dan menderita. Kehidupan yang penuh dengan penyangkalan atas diri sendiri. Kehidupan yang penuh dengan nilai-nilai berkualitas. Akhir-akhir ini, saya sering sekali menyaksikan film-film perang. Saya sangat menyukai film perang karena film perang menyajikan filosofi-filosofil hidup yang sesuai dengan Kekristenan, di antaranya pengorbanan, penderitaan, penyangkalan diri, keberanian, dan semangat tempur. Film-film, seperti Kingdom of Heaven, Lord of the Ring, 300, Narnia, dan masih banyak lagi adalah film-film yang selalu menumbuhkan semangat tempur saya selama menjalani hidup di dunia. Sebagai prajurit Kristus, kita seharusnya perlu mengerti kriteria-kriteria seorang prajurit yang ideal di hadapan Tuhan. Pertama, kita adalah prajurit-prajurit yang harus menyerahkan seluruh hidup dan keberadaan kita kepada Komandan Agung kita agar dapat dipakai oleh-Nya untuk bertempur. Kedua, kita perlu mengenakan seluruh perlengkapan senjata tempur yang berkualitas seperti yang disebutkan dalam Efesus 6:14-18. Ketiga, kita perlu memiliki hati seorang prajurit. Milikilah hati, seperti hati seorang prajurit di dalam cerita tadi! Janganlah pernah berharap untuk dipuaskan selama hidup di dunia ini! Mari, bunuh semua ego yang ada di dalam diri kita karena hidup ini memang bukan tentang kita, tetapi tentang Komandan Agung kita, Tuhan Yesus Kristus. Marilah menjadi prajurit yang setia bertempur dengan sekuat tenaga sebelum kematian menjemput! Marilah kita nikmati rasa sakit dan penderitaan tersebut! Marilah menjadi hina kalau memang harus terhina! Marilah menjadi hancur kalau memang harus hancur! Marilah terima semua konsekuensi hidup di dalam Tuhan! Apa konsekuensi tersebut? Konsekuensinya adalah kehancuran ego kita! Relakanlah dan milikilah ketulusan untuk membunuh ego kita! Jalanilah segala proses yang Tuhan berikan karena ketekunan dalam penderitaan itu memang harus dijalani! Saya bukan menakut-nakuti kita semua bahwa kehidupan Kekristenan adalah kehidupan yang selalu ditemani oleh berbagai macam penderitaan dan rasa sakit. Mari kita bijak, mengapa kita harus mengalami semua hal yang menderitakan itu? Apakah teman-teman tahu? Kita telah benar-benar memperoleh kemenangan. Nah, kemenangan yang sudah pasti kita raih tersebut adalah alasan mengapa kita melakukan semua itu. Siapakah yang merebut kemenangan tersebut? Ia adalah Komandan Agung kita yang gagah berani dengan segala kehinaan dan penderitaan yang ditanggung-Nya mau mengasihi kita untuk membebaskan kita dari penjajahan dosa. Ia telah bertempur lebih dulu di garis depan dan mengorbankan diri-Nya untuk membebaskan kita dari belenggu penjajahan dosa sehingga kita semua dapat memperoleh kemenangan. Ya, kemenangan atas penjajahan dosa. Kemenangan tersebut hanya ditujukan untuk prajurit-prajurit-Nya, bukan untuk sembarang orang. Betapa beruntungnya kita sebagai orang yang dipilih dan dipangggil untuk berhak menerima perhatian, kepedulian, dan kasih Tuhan yang begitu besar tersebut. Inilah yang menjadi alasan bagi kita untuk bertempur dan menyerahkan seluruh hidup kita hanya untuk Dia, Komandan Agung kita, Raja dari segala raja yang ada. Pertempuran kita bukanlah pertempuran untuk merebut kemenangan, melainkan pertempuran untuk mengisi dan mengerjakan kemenangan tersebut. Oleh karena itu, janganlah takut untuk menjalani semua penderitaan tersebut karena kemenangan itu telah diraih dan kemenangan tersebut jauh lebih besar nilainya dibandingkan dengan kerasnya pertempuran yag kita jalani. Mari serahkan seluruh hidup kita secara total kepada Tuhan! Marilah bertempur, pasukan Tuhan! Let’s fight and get the war!!!

Kasih vs Keakuan

6 Februari 2009 - Leave a Response

kasih vs keakuan

Kita sebagai orang yang sudah lama mengerti Kekristenan tentunya sudah mengetahui bahwa barangsiapa mengenal Allah dan berada di dalam Allah, mau tidak mau ia harus bisa mengasihi karena Allah sendiri adalah kasih (1 Yoh 4:8, 16). Hal itu memang menjadi salah satu unsur penting dalam Kekristenan. Apabila hal tersebut adalah salah satu unsur penting, seharusnya hal tersebut merupakan standard atau patokan yang sudah tidak perlu dipermasalahkan lagi dalam kehidupan Kekristenan kita. Namun, kita terkadang tidak mengihiraukan, bahkan menyepelekan hal dasar tersebut. Hal ini ibarat para pemain sepak bola di negeri kita yang tidak maju-maju karena mereka selalu menyepelekan teknik dasar dalam permainan sepak bola. Begitu pula halnya dengan kehidupan kita sebagai orang Kristen yang selalu berfokus pada hal-hal minor dan justru tidak memperhatikan hal-hal mayor yang merupakan dasar dari Kekristenan. Saya dapat mengatakan bahwa Kekristenan yang selama ini kita anut adalah Kekristenan yang loyo, seperti seorang pengecut yang tidak berani menerapkan 1 Yohanes 2:6 dalm kehidupan sehari-hari. Mengasihi memang merupakan hal yang rumit, apalagi membahas mengenai bagaimana cara mengasihi Allah. Hal yang menjadi fokus dari tulisan ini adalah bagaimana cara mengasihi sesama kita sebagai bukti bahwa kita mengasihi Allah (1 Yoh 4:20). Saya berani menyimpulkan bahwa inti dari semua definisi kasih yang tertulis pada 1 Korintus 13:4-7 adalah ketidakegoisan. Ketidakegoisan berarti hal yang menunjukkan bahwa kita sama sekali tidak mempedulikan apapun yang berkaitan dengan diri sendiri. Hal ini juga disebutkan dalam Filipi 2:6-8 yang menjelaskan bahwa dalam keilahian-Nya, Tuhan Yesus pun sama sekali tidak egois. Itulah inti dari kasih Allah, yang biasa disebut kasih agape. Ekstrimnya, kasih agape adalah kasih yang rela untuk melakukan apapun demi hal yang dikasihinya, tanpa adanya alasan yang jelas sekalipun hal tersebut justru membuat dirinya berada dalam keadaan yang sangat buruk atau sangat menyakitkan. Inilah kebenaran yang harus kita terima. Hal ini terlihat melalui pengorbanan gila-gilaan seorang Yesus Kristus yang rela membiarkan dirinya hancur di kayu salib hanya demi menebus manusia-manusia bebal dan hina, seperti kita ini. Hal yang selama ini terjadi di dalam tubuh KPS masih sangat mengkhawatirkan. Kita memang sudah merasa puas akan kemampuan kita untuk bisa mengasihi sesama tetapi kita sendiri tidak menyadari bahwa kita masih belum bisa mengasihi secara benar sesuai dengan apa yang Tuhan mau. Kasih yang benar adalah kasih yang agape itu. Apabila seseorang mengasihi bukan dengan kasih agape, dapat dipastikan motivasinya tidak murni. Ekstrimnya, mengasihi seseorang agar mendapatkan pahala sekalipun adalah hal yang juga sama sekali tidak murni. Marilah kita belajar untuk tidak egois! Marilah kita berusaha untuk membunuh segala keakuan yang ada di dalam diri kita! Jangan sekali-sekali mengatakan: “Ah, manusia tidak ada yang sempurna, kita ‘kan hanya bisa berproses menuju kesempurnaan itu.” Kalimat itu tidak sepenuhnya benar dan bisa menyesatkan karena membuat kita tidak bertumbuh dalam kebenaran. Kita harus optimis bahwa kita bisa melakukan hal itu karena Tuhan sendiri pun optimis. Ini adalah kebenaran dan syarat mutlak bagi kehidupan orang Kristen yang berkualitas karena orang Kristen merupakan orang yang hidup sama seperti Kristus telah hidup (1 Yoh 2:6). Saya menulis semua hal ini bukan karena saya lebih rohani, melainkan karena saya sangat menyadari bahwa saya sendiri juga belum mampu mengasihi secara benar. Jadi, janganlah jadi orang yang egois karena kasih yang berasal dari Allah benar-benar tidak ada padanya. Mari bekerja sama dengan Roh Kudus untuk membunuh sifat egois kita! Mari relakan diri kita sama sekali tidak berarti dan jadikan orang-orang yang kita kasihi adalah hal yang utama (Flp 2:3)! Salam REVIVAL untuk kita semua!!!

Hello world!

2 Februari 2009 - Satu Tanggapan

Shalom, saudara yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus. Perkenalkan, sebuah blog baru dari saya yang saya persembahkan khusus untuk kita, semua para kekasih Kristus…

Doa dan harapan saya, kehadiran blog ini menjadi berkat bagi kita semua dan memuliakan Dia, Allah Yang MAHA DAHSYAT!!!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.