
Frasa “because of You” yang berarti “oleh karena-Mu” benar-benar harus menjadi filosofi atau prinsip hidup Kekristenan kita. Mengapa demikian? Sebelumnya, saya mau menuliskan beberapa potong kalimat yang dilontarkan oleh Dr. Erastus Sabdono, M.Th. (rektor salah satu sekolah Alkitab di Jakarta) dalam khotbahnya, yang berbunyi demikian: “Ada satu filosofi hidup yang harus tertanam di dalam jiwa kita. Jika kita tidak memiliki prinsip hidup ini, jika kita tidak berdiri di atas filosofi ini, hidup kita pasti tidak benar. Prinsip hidup itu adalah bahwa manusia dilahirkan di dunia ini dan hidup untuk sementara waktu, hanya untuk satu tujuan. Tujuan itu adalah mengenal Allah.” Jadi, sesungguhnya kita harus menyadari bahwa tujuan utama kita di dalam hidup ini adalah mengenal-Nya. Lho, mengapa demikian? Mungkin, beberapa dari teman-teman akan mengatakan, “Aku sudah mengenal Tuhan dari dulu, lalu apa lagi? Apakah hanya begitu saja hidup ini?”.
Percayalah, mengenal Tuhan itu sangat rumit! Apabila kita ingin menjalin relasi dengan teman lawan jenis kita, yang mungkin akan menjadi pendamping hidup kita sampai mati, kita pasti harus memulai tahap awalnya, bukan? Tahap awal tersebut adalah mengenal pribadinya, bukan? Kita harus mengetahui tanggal lahirnya, di manakah tempat tinggalnya, apakah makanan kesukaannya, apakah hobinya, apakah yang membuatnya bahagia dan sedih, apakah yang membuatnya marah, apakah yang membuatnya jatuh cinta kepada kita, hal-hal apa yang paling ia senangi, hal unik apa yang ada padanya, dan masih banyak lagi. Kira-kira seperti itulah tahap mengenal pribadi kekasih kita. Hal ini tidak jauh berbeda ketika kita mau mengenal Tuhan. Mengenal Tuhan benar-benar sangat rumit, bahkan lebih rumit daripada mengenal pribadi kekasih/pacar/sahabat kita. Lalu bagaimana caranya? Mau tidak mau, kita harus bergaul karib dengan-Nya.
Bergaul karib dengan-Nya membutuhkan dua hal, yang sangat mempengaruhi kualitas pergaulan kita. Pertama, kita membutuhkan Alkitab beserta pengajaran Firman Tuhan yang benar-benar original. Pak Erwin Sudharma (pembicara pada Malam Sukacita Paskah 2008 di Institut Pertanian Bogor) mengatakan bahwa kita perlu menjadikan Alkitab sebagai bahan bacaan utama di dalam aktivitas sehari-hari agar kita dapat menyadari cinta Tuhan yang begitu nyata dalam hidup kita. Kita benar-benar harus memprioritaskan Alkitab di atas diktat-diktat kuliah, buku-buku novel/komik, buku-buku pengembangan diri, dan buku-buku lainnya yang mungkin penting, tetapi nilai gunanya tidak mampu melebihi nilai guna Alkitab. Apabila kita gagal membaca diktat kuliah, kita hanya gagal mendapatkan materi dan konsekuensi terberatnya adalah mendapatkan nilai ujian yang jelek. Akan tetapi apabila kita gagal membaca Alkitab, kita tidak hanya gagal mendapatkan materi pengenalan akan Tuhan, tetapi juga gagal dikenal oleh-Nya (Mat 7:23). Ini adalah tragedi yang sungguh tragis. Kedua, kita membutuhkan beberapa menit, bahkan beberapa jam untuk bersekutu bersama Tuhan di dalam hadirat-Nya. Inilah yang disebut bersaat teduh dalam doa, aktivitas yang sakral dan kudus di mana kita menyediakan waktu dan tempat secara khusus untuk memasuki dan menikmati hadirat Tuhan dan beristirahat di dalam pelukan-Nya, memuji-Nya, menyembah-Nya, bersyukur kepada-Nya, dan berkeluh kesah kepada-Nya.
Mengenal Tuhan adalah dasar dan tahap awal untuk menuju ke langkah selanjutnya yaitu melakukan kehendak-Nya dan menyelesaikan pekerjaan-Nya (Yoh 4:34). Apabila tahap awal saja kita belum mampu melakukannya, bagaimana mungkin kita dapat menuju tahap selanjutnya. Oleh karena itu, kita harus berjuang untuk mengenal-Nya karena hal ini tidaklah otomatis. Maksud saya adalah seperti ini, tidak mungkin kita akan mengenal Tuhan secara otomatis, setelah kita dibaptis di gereja, atau pulang dari gereja yang berapi-api, atau pulang dari retreat atau KKR besar. Mengenal Tuhan memerlukan proses dan kemauan, kerinduan, serta ketulusan untuk benar-benar mau mengenal karakter dan pribadi-Nya secara benar dan mendalam.
Apabila kita sudah mengenal Tuhan, kita akan memiliki relasi yang harmonis dengan-Nya dan apabila hal itu terjadi, tercetuslah suatu konsep: kita memiliki Tuhan dan kita dimiliki Tuhan. Orang yang sudah sungguh-sungguh mengenal Tuhan secara benar ia akan menyadari betapa Tuhan sangat mengasihinya. Ia akan hormat dan tunduk karena ia mengenal siapa Tuhan yang dihadapinya. Bahkan, apa yang dikatakan Pak Heri Susanto (pembicara pada Persekutuan Siswa Kristen Bogor April 2008) bahwa orang yang sudah hidup di bawah pimpinan Roh Kudus, nalurinya tidaklah lagi naluri untuk melakukan dosa, tetapi naluri untuk melakukan hal-hal yang berkenan bagi-Nya. Hal inilah yang membuatnya dapat berkata, “Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi.” (Mzm 73:25).
Mengenal Tuhan juga membutuhkan pertaruhan yang mahal. Misalnya, seorang mahasiswa kehutanan yang mau mengenal dan mendalami ilmu kehutanan secara utuh, ia harus rela membayar mahal atas biaya kuliah, biaya pembelian buku, biaya pembelian perlengkapan hidup di hutan, jangka waktu kuliah kurang lebih empat tahun, dan juga jerih lelah dalam belajar dan melakukan penelitian. Bagaimana mungkin ia mampu mengenali ilmunya apabila ia tidak mempertaruhkan harga yang harus dibayar? Saya akan berikan contoh lagi dalam dunia gelap, misalnya perjudian. Di dalam perjudian kita dituntut untuk menang sebanyak-banyaknya dan kita perlu mempertaruhkan uang kita agar dapat melakukan perjudian dan menang sebanyak-banyaknya. Bagaimana mungkin seorang pejudi mampu menang sebanyak-banyaknya apabila ia hanya berani bertaruh sedikit? Lebih-lebih, ia malah tidak berani mempertaruhkan apapun, bagaimana mungkin ia mengalami kemenangan padahal memulai perjudian saja belum dilakukannya? Hal yang sungguh mustahil. Demikian juga dalam mengenal Tuhan, diperlukan pertaruhan. Barangsiapa mau menang, ia harus mempertaruhkan sesuatu. Tuhan tidak hanya meminta kita mempertaruhkan uang kita, pelayanan kita, atau kelebihan yang kita miliki. Ia meminta lebih dari itu, ia meminta kita mempertaruhkan seluruh hidup kita. Mengapa demikian? Hal itu dikarenakan kita telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar (1 Kor 6:20).
Jadi, frasa “because of You” memang benar-benar harus menjadi filosofi atau prinsip hidup Kekristenan kita. Katakan: I live because of You, I study because of You, I serve because of You, I know You because of You, I love You because of You, I do everything in my life because of You. Everything is only because of You. Hidup Kekristenan sangat berbeda dengan hidup yang ditawarkan oleh filosofi-filosofi dunia. Hidup Kekristenan mungkin dianggap radikal dan tidak waras bagi dunia. Ketika orang-orang dunia sibuk mencari uang dan kesuksesan karir untuk kepuasan batin mereka, kita malah sibuk mencari dan mengenal Tuhan hanya untuk memuaskan hati-Nya saja. Tidak hanya itu, justru kita pun harus benar-benar mematikan ego untuk memuaskan diri kita. Prinsip hidup Kekristenan yang saya alami adalah hidup ini bukan tentang kita, melainkan tentang Tuhan. Pada Roma 11:36, tertulis: Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! Hal ini menunjukkan bahwa alam semesta dan seluruh ciptaan, mulai dari yang gaib sampai yang nyata, mulai dari yang terkecil sampai yang terbesar, mulai dari yang paling sederhana sampai yang paling rumit, hanya berfokus dan tertuju pada satu tema, satu judul, dan satu klausa, yaitu kemuliaan Tuhan.
Kita tidak berhak menuntut apapun atas hidup kita karena hidup ini bukan tentang kita. Sekalipun kita mengalami penderitaan yang begitu berat, kita harus tetap menyadari hidup ini tentang Tuhan. Toh, sekalipun penderitaan yang kita alami begitu berat, tidak lama lagi semuanya akan berakhir, tidak lama lagi kita akan mati, tidak lama lagi kita akan memasuki sebuah kebahagiaan yang tidak ada hentinya, yaitu persekutuan dan pemerintahan yang kekal bersama pribadi yang Maha Terhormat dan Maha Termulia, yaitu Komandan Agung kita, Tuhan Yesus Kristus. Marilah mengenal Tuhan!!!

